Senin, 22 Agustus 2016

Lampung - The Treasure of Sumatra : Pantai Batu Layar, Surga Tersembunyi di Balik Perjalanan Empat Musim



“Kamu serius mau ke Lampung dua hari doank, Tar?” tanya teman sangsi. 

“Iyup! Kan aku udah cerita dari kemarin” 

“Gilak! Dapat apa kamu cuma dua hari. Sumatra loh, Tar! Enggak kayak kamu pergi ke Jogja. Minimal tiga hari biar puas jalan-jalannya” 

“Eeemmm...lha gimana? Mau cuti enggak memungkinkan” 

Trip ke Lampung akhir Mei lalu memang hanya untuk membunuh weekend. Biar kesannya keren gitu weekend nemplok di luar jawa. Padahal aslinya mah remek di badan. Hahaha. Perjalanan darat dari Semarang hingga Lampung terbilang tidak mulus untuk fisik maupun mental. Ceritanya kapan-kapan deh ya :D 



Tiga jam pemanasan sebelum perjalanan empat musim

“Kita masih harus menempuh perjalanan tiga jam menuju Teluk Kiluan. Bagi yang mau tidur silakan. Yang mau ngobrol ayuk!” ujar Om Indra membuka percakapan. Beliau menjadi driver sekaligus guide yang akan menemani perjalanan kami dua hari. 

“Hah? Tiga jam lagi? Buset jauh amat!” seru saya dari kursi belakang. 

“Perjalanan kita akan melewati bukit, perkampungan, perkebunan dengan jalan yang warbiyasak. Pokoknya menyenangkan deh. Kita nikmati perjalanan ini ya, Guys” 

Bagi saya ini kesempatan emas untuk menambah energi. Selain saya memang seorang miss pelor (nempel molor), efek kurang tidur selama kurang lebih 10 jam membuat tubuh menuntut hak untuk diistirahatkan sejenak. Tiga jam sangatlah cukup. Beberapa kilometer terlalui, jalanan masih lumayan bersahabat. Mata dimanjakan dengan pemandangan hijau yang menenangkan. Membuat saya lebih cepat jatuh tertidur.

Hingga… 

Duk! 

Kepala saya terantuk kaca mobil. Hiks. Lumayan sakit hingga membuat saya terbangun. Ternyata jalan yang kami lalui sungguh tidak mulus padahal masih di perkampungan. Jalanan berbatu, berlobang sana sini dan berlumpur membuat mobil goyang kanan goyang kiri. 

Perjalanan tiga jam dari Bandar Lampung memang sudah melalui berbagai macam model jalanan. Tapi menurut Om Indra belum ada apa-apanya dibanding jalanan menuju Pantai Batu Layar atau lebih sering dikenal dengan Pantai Gigi Hiu. 

Glek! 

Rasa penasaran saya semakin memuncak. 


Perjalanan empat musim dimulai 

“Ayo segera naik ke ojek biar nggak kesorean!” seru Om Yopie memberi komando. 

“Sholat dulu kan? Waktu zuhur udah hampir habis,” tanyaku sambil melirik jam tangan. 

Om Yopie mengangguk. 

Saya buru-buru mencari abang ojek. Maunya sih yang ganteng kek Abang Reza Rahardian tapi tak ada satupun yang mirip. Yasudahlah. Abang ojek yang akan membawa saya ke Pantai Batu Layar masih muda. Mungkin kami seumuran. Sekalipun selisih paling hanya setahun dua tahun. 

“Emang jalanan yang akan dilewati mengerikan ya, Mas?” tanya saya membuka percakapan. Pedekate dulu sama orang yang akan menemani saya pulang pergi. 

“Iya lumayan, Mbak. Tapi pemandangannya bagus kok,” jawabnya kalem. 


Pemandangannya ciamik kan? :D

Saya hanya manggut-manggut. Percaya 100% pada abang ojek. Jalanan yang masih normal dengan pemandangan menyejukkan mata menyita perhatian saya. Sejak awal Om Indra sudah berpesan jangan lihat kondisi jalanannya. Lihatlah pemandangannya. Oke fix! Saya harus percaya pada dedengkot Lampung. 

Tanpa terasa rem dan kopling mulai dimainkan si abang. Sepertinya rute yang “sesungguhnya” akan segera ditempuh. Dan benar saja, Sodara-sodara! 

Jalanan menanjak penuh bebatuan berbagai ukuran, menurun dengan kerikil dan tanah licin, kubangan lumpur di beberapa titik, hingga jalan setapak yang dipenuhi rumput liar. Ada sih jalanan beton tapi hanya seuprit. Kondisi jalanan inilah yang membuat teman-teman menjuluki empat musim. Motor kami meliuk-liuk bagai ular melihat mangsa. Rem, kopling dan kepiawaian abang ojek terus berkolaborasi. Sedangkan di belakang abang ojek saya hanya mampu melafalkan doa. Nyali ini sungguh ciut seketika. Fokus saya beralih pada jalanan, bukan pemandangan seperti pesan Om Indra. 

Jalanan ini mulus 

Mau mengajak si abang buat ngobrol takut mengganggu konsentrasi. Enggak ngobrol kok ya hati kebat kebit melalui jalan yang kanan kiri dikelilingi jurang curam. Belum lagi sesekali ban motor meleset. Alamak! Andai ada baling-baling bambu, saya ingin terbang saja! Sungguh kalau bukan ojek profesional sangat tidak disarankan mengendarai motor sendiri.

Semakin jauh, semakin rumit pula jalan yang dilalui. Lama kelamaan jalanan ini mengingatkan saya pada sesuatu. Teringat cerita demi cerita tempat pengabdian teman. Di pelupuk mata terbayang segerombolan anak berseragam merah putih sedang melalui jalan ini. Tanpa sepatu dengan ransel di punggung. Mata ini seketika menghangat. Perjalanan saya untuk piknik ini tak seberapa dibanding dengan anak-anak berseragam merah putih di beberapa pelosok daerah. Saya melalui jalan ini untuk mendapatkan energi baru. Sedangkan masih banyak anak-anak melalui jalanan seperti ini untuk menuntut ilmu. Masih pantaskah saya untuk mengeluh? 

Jalan kaki aja yookk!

Situasi ini menjadi bahan obrolan saya dengan abang ojek. Saya bertanya banyak hal. Tentang kondisi sekolah, mata pencaharian, akses menuju kota kabupaten, hasil perkebunan, transmigrasi hingga harga bahan pangan. Kebetulan abang ojek saya merupakan blasteran Jawa Sumatra. Ndilalah kok Jawanya ya Cilacap. Yang kebetulan saya pernah berkunjung dan dinas beberapa kali. Klik! Kami nyambung. 

“Motornya sampai di sini saja. Nggak bisa lewat. Ada truk mogok,” seru seorang bapak di tengah jalan. 

Eh? Truk mogok? Duh apalagi ini. 


Sisa badan jalan tak bisa dilalui motor. Membuat kami harus berhenti. Tapi mau nunggu sampai kapan? Akhirnya saya, Om Indra, Mbak Ross dan Tita memilih jalan kaki. Katanya sih tinggal sedikit lagi sampai pantai. Kami berempat melangkahkan kaki dengan riang gembira. Tak lupa wefie dan saling melempar canda untuk menghilangkan rasa lelah.

Bakar kalori dengan jalan kaki :D

“Mbak, kok jalan kaki? Tadi tak cari-cari nggak ada di sana,” tanya abang ojek setelah mereka bisa melewati jalan. 

“Daripada nunggu kelamaan. Lumayan bisa dapat foto banyak,” jawab saya asal. 

Motor melaju mengikuti papan petunjuk menuju pantai tujuan. Menerjang jalanan kecil di tengah hutan yang dibuka untuk ladang. Sesekali roda terjembrab karena jalanan berlubang tertutup rumput tebal. Saya ngeri sendiri hingga tanpa sadar kaki sebelah ikut turun dan menahan motor. Debur ombak terdengar dari kejauhan. Membuat saya tak sabar ingin bermain air. Saling membasahi satu sama lain dengan riang gembira. Ternyata itu semua hanya ada dalam benak! Karena bibir pantainya hanya dipenuhi batu mulus dengan berbagai ukuran. Gagal deh bangun istana pasirnya. Hahaha. 

Horeeee akhirnya sampaaaaiiiii :D

“Mbak, turun sini ya! Pantainya di sebelah sana. Lebih baik berangkatnya barengan saja,” abang ojek memberi instruksi. Tangannya menunjuk ke satu tempat dengan kontur bebatuan tinggi. 

Ealaaah!

Perjalanan belum berakhir euy! Kami masih harus jalan kaki melewati bibir pantai. Disambung dengan jalan setapak pinggir hutan yang enggak mulus. 

Pantai Batu Layar, surga tersembunyi di balik perjalanan empat musim 

Saya memilih duduk sejenak mengatur nafas. Meletakkan barang-barang dan meluruskan kaki. Mengitarkan pandangan pada laut lepas. Menghirup udara dalam-dalam. Memberi ruang untuk paru-paru dan otak mengambil oksigen sebanyak mungkin. Menyesap kenikmatan hebatnya ciptaan Tuhan ini. Ribuan syukur hanya mampu terucap dalam batin.

Angin laut membelai wajah. Debur ombak terdengar berirama saat menyentuh jejeran batu yang menjulang kokoh. Ada perasaaan haru menelisip. Perjalanan panjang ini akhirnya menemukan muara. Beberapa teman langsung mengambil posisi dengan kamera dan smartphone masing-masing. Mengambil foto dan video terbaik. 

Pantai Batu Layar seharusnya hanya berjarak 5 kilometer dari Teluk Kiluan. Kondisi jalanan yang sedemikian rupa membuatnya terasa sangat jauh dan melelahkan. Perjalanan kurang lebih satu jam dengan motor memang membuat pantat panas dan punggung kaku. Tapi semua itu terbayar lunas saat kaki berhasil menginjakkan kaki di bibir pantai. Jejeran batu raksasa bak layar terkembang sebuah kapal. Seolah mengisyaratkan betapa kokohnya untuk melawan angin dan gelombang laut. 

Cakep kan? :D

Pantai Batu Layar juga terkenal dengan sebutan Pantai Gigi Hiu. Mungkin karena bentuk batunya yang lancip dan teratur mirip gigi hiu. Ada juga yang menyebutnya dengan pantai Pegadungan. Sesuai dengan nama daerah pantai ini berada. 

Saya tak ingin ketinggalan untuk mengabadikan keindahan pantai ini. Mengambil foto dari beberapa sudut. Kondisi pantai yang terdiri dari bebatuan membuat kami harus ekstra hati-hati. Batunya sangat licin. Salah melangkah bisa tergelincir. Belum lagi ombak yang datang selalu agak besar. Jika tak waspada sangat berbahaya. Awalnya ada yang mengajak bermain dekat dengan bebatuan yang tinggi. Bahkan ada yang ngajakin naik! Berhubung jiper dengan ketinggian, saya memilih untuk tidak jauh-jauh dari bibir pantai. Jaga jarak biar aman, Dab! 

“Sunsetan di sini pasti syahdu banget, Kak Berb,” celetuk saya pada Kak Berbie saat kami duduk manis memandang deburan ombak. 

“Yoi. Banget deh!” Kak Berbie mengangguk setuju.

Sunsetnya belum sempurna sih tapi suka aja :)

Sebagai pecinta sunrise dan sunset saya langsung berkhayal. Membayangkan betapa cantik dan syahdunya pantai ini. Kondisi pantai yang relatif masih sunyi dan jauh dari perkampungan merupakan perpaduan yang sempurna. Tempat yang cocok untuk melepas semua penat dan membuang galau ke Samudra Hindia. Siapa mau coba? :D 

“Teman-teman ayo kita pulang. Takut kemalaman di jalan,” seorang abang ojek berseru kepada kami. Memberikan instruksi bahwa waktu kami telah habis. Sudah saatnya kembali ke Teluk Kiluan. 

Melalui kembali jalan yang bikin ciut nyali dan jantung berdebar sepanjang jalan. Membayangkan kemalaman di jalan membuat saya begidik ngeri. Apalagi penerangan jalan masih sangat sedikit. 

Matahari perlahan telah tumbang ke arah barat. Memaksa kami untuk berkemas dan meninggalkan pantai ini. Dalam batin saya memang masih tak rela. Saya masih ingin menikmati sunset. Apadaya kondisi tak memungkinkan. Semoga suatu hari saya bisa berkunjung lagi untuk menikmati sunset atau sunrise


Pulang, perjalanan gado-gado  

Serangga dan kawan-kawannya mulai bernyanyi riang. Memberi tanda jika sebentar lagi malam akan tiba. Saya membonceng abang ojek dengan hati girang. Oksigen telah memenuhi paru-paru dan otak. Memberi energi baru untuk menyambut hari-hari selanjutnya dengan semangat. Saya siap melalui jalanan empat musim seperti saat berangkat. Jalanan pasti bisa dilalui tanpa kendala. 

“Duh, Mbak, lampu motor saya mati,” abang ojek saya memberikan kabar tak sedap. 

“Hah? Mati?” jawab saya tak kalah kaget. 

Bayangan menempuh jalan sedemikian rupa tanpa lampu sungguh mengerikan. Berbagai pikiran mulai berkelebat. Nanti kalau nyungsep gimana. Kalau ban motornya nyelip gimana. Kalau kalau dan kalau. Huhuhu. 

“Iya, Mbak. Padahal tadi nyala loh. Ini barusan aja nggak bisa nyala” 

Saya terdiam. Bingung harus ngomong apa. Sepanjang perjalanan hanya bisa berdoa dan berdoa. Berharap selamat dan sehat sampai Teluk Kiluan. Berharap motor tanpa lampu ini bisa melalui jalan empat musim tanpa kendala apapun. Beruntung ada motor lain yang menemani. Setidaknya lampu motor tersebut bisa membuka jalan. 

Jalanan mulai gelap. Jarak motor yang menemani juga semakin menjauh. Hati mulai kebat kebit tak karuan. Saya mencoba membuka percakapan untuk mengalihkan ketegangan. Obrolan kami mengalir. Kami membahas tentang apa saja. Nggak peduli apakah tadi siang sudah pernah dibahas atau belum. Saya tertarik tentang obrolan harga bahan pangan dan hasil perkebunan. Memang sepanjang jalan terhampar kebun kelapa yang sangat luas. Pohon yang mulai terkikis keberadaannya di tempat saya tinggal. Ternyata saat musim panen harga dua butir kelapa ukuran besar hanya berkisar tiga ribu rupiah! Itu sudah harga paling mahal. Ealaaaah padahal di tempat saya sebutir kelapa kering dibandrol mulai enam ribu rupiah. Jauh banget ya selisihnya? 

Obrolan kami berlanjut pada komoditi perkebunan lainnya. Kebetulan sepanjang jalan saya melihat penduduk sedang menjemur cengkeh. Sama seperti kelapa, harga cengkeh juga terbilang murah saat musim panen tiba. Begitu juga untuk hasil kebun lain seperti coklat, kopi, dan pisang. Sebagai pecinta buah-buahan saya wajib bertanya berapa harga pisang sesisir. Hihi. Secara harga pisang di tempat tinggal bisa gila-gilaan kalau nggak musimnya. 

"Mbak, lampunya nyala! Alhamdulillah!" seru abang ojek girang. Saking girangnya membuat motor sempat agak oleng.

"Alhamdulillah. Akhirnya nyala juga. Fyuh!" saya menghembuskan nafas lega. Akhirnya perjalanan kami ditemani lampu motor juga.

Obrolan demi obrolan berlanjut tanpa henti. Membuat saya semakin paham bahwa Lampung menyimpan banyak hal. Dulu saya hanya mengenal Lampung lewat pelajaran geografi. Saya juga hanya mendengar nama Lampung karena masa-masa transmigrasi. Ya, Lampung merupakan salah satu tujuan transmigrasi oleh pemerintah selain beberapa provinsi di Indonesia. Abang ojek juga bercerita bahwa penduduk Teluk Kiluan sebagian besar merupakan transmigran dari Jawa. Jadi tak usah heran jika banyak blasteran Jawa Sumatera.

Ada yang menambat hati di Teluk Kiluan. Banyaknya pendatang dari berbagai suku seperti Jawa, Sunda, Bugis, Bali dan Lampung membuat perkampungan ini sangat semarak. Rumah ibadah berjajar di sepanjang jalan sesuai kepercayaan masing-masing. Membuktikan bahwa mereka bisa hidup rukun berdampingan. Tanpa membeda-bedakan suku, agama dan ras. Semua melebur jadi satu. Membingkai Teluk Kiluan dengan keramahan, keanekaragaman dan kerukunan dari perbedaan yang ada. Membuat Teluk Kiluan menjadi primadona untuk disambangi. Tidak hanya karena keindahan alam tetapi juga kemampuan masyarakat mengemas perbedaan dalam satu bingkai yang sangat apik. 


Pantai Batu Layar

Potensi wisata yang telah ada sudah sebaiknya dikelola dengan baik. Bahkan harus dikembangkan lebih baik lagi. Apalagi menurut abang ojek saat musim liburan wisatawan sangat membludak. Tentu ini sangat menyumbang pendapatan yang lumayan untuk penduduk Teluk Kiluan. Suatu hari nanti jika akses menuju Pantai Batu Layar sudah baik, motor yang digunakan juga lebih safety, tentu akan membuat Teluk Kiluan semakin mentereng di mata  wisatawan. Abang ojek juga bisa mengangkut wisatawan beberapa kali dalam sehari.

Lampung, sebuah provinsi pecahan dari Sumatera Selatan ini memang menyimpan banyak potensi wisata. Wisata kulinernya wajib untuk dicicipi. Sejarahnya pantas untuk dikulik. Alamnya harus dinikmati dengan segenap hati. Budayanya harus dipelajari dan diresapi. 


Duduk manis di sini sambil ngerumpi asyik banget :)

Keanekaragaman yang dimiliki tentu harus dilestarikan. Jangan sampai tergerus oleh perkembangan jaman. Apalagi potensi pariwisata Lampung yang mulai menggeliat tentu akan menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan domestik maupun mancanegara. 

Ada yang menarik dari Lampung untuk menunjukkan potensi budaya, pariwisata dan keanekaragaman tradisi kepada khalayak luar. Lampung Krakatau Festival, sebuah festival kebudayaan kebanggaan Lampung. Dimulai sejak tahun 1990, festival ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seru yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat Lampung.

Tahun ini Festival Krakatau hadir mulai tanggal 24-28 Agustus 2016 dengan berbagai acara seru. Diantaranya jelajah pasar seni, jelajah rasa, jelajah layang-layang, jelajah krakatau dan jelajah semarak budaya. Seru dan menarik bukan? 


"Mbak, kita kebablasan nih!" abang ojek buru-buru membelokkan motornya menuju jalan yang seharusnya.

"Wah, gara-gara kita keasyikan ngobrol sampai lupa jalan pulang," sahut saya terkikik.

Akhirnya saya menginjakkan kaki di Teluk Kiluan kembali. Obrolan sepanjang jalan pulang dengan abang ojek benar-benar membunuh waktu. Mengikis rasa kebat kebit yang sudah hadir sejak tahu bahwa lampu motor yang saya tumpangi mati.

"Sampai jumpa lagi lain waktu ya, Mas. Terima kasih banyak!" ujar saya berpamitan.

Abang ojek tersenyum dan mengangguk. Meninggalkan saya secepat kilat.

Ekor mata saya mengikuti sampai si abang hilang ditelan gelapnya malam. Dalam hati saya berdoa semoga suatu saat nanti bisa berkunjung lagi ke Teluk Kiluan. Bisa menikmati indah dan syahdunya sunrise dan sunset sekaligus. Aaaahhh senangnyaaaa! 

Semoga!



Semarang, 22 Agustus 2016

@tarie_tarr





34 komentar:

  1. Ah lengkap sekali. Ini mah pasti menang. Ajak aku ke Lampung, kakak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih doanya, Kak Evi :*

      Barengan aja yuk, Kak. Biar kita bisa foto bareng lagi :D *cetek pengennya

      Hapus
  2. Asiknyaaa yang bisa liburan ke Lampung.
    Semoga ketemu lagi sama abang ojeknya. jangan-jangan, kalian...... :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha plisss jangan tebarkan hosip ituh :p

      Hapus
  3. Ini khasnya Tari, attention to detail di awal.
    Eksekusi dan closingnya, nendaaang, euuii..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha Mbak Ross bisa ajaaaa :D

      Maaaciihh mbakyuuu!

      Hapus
  4. Judul tulisannya manteeeep, menggetarkan hati!

    Ikut tegang pas baca bagian pulang naik motor lampunya mati. Mana jarak dengan yang lain jauh-jauh ya Tari. Tapi sebanding banget ya dengan keindahan yang dilihat di Gigi Hiu. Kapok ga ke sana lagi? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapok kalau waktunya pendek. Hahaha. Kalau panjang mah hayuukkk ajah :D

      Hapus
  5. ahhhh bisanya salah jalan, saking hebringnya ngobrol ya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiiii, Kak Berb! Enggak nggosipin kakak kok *eh :p

      Hapus
  6. lampunya pake mati segala, duh, drama yg tak terduga ... tapi bikin bacanya tambah seru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget serunya, Mbak. Deg-degannya itu juga warbiyasak

      Hapus
  7. Begitulah jalan di sumatra up and down n kadang bikin deg2 ser ya taro tp kalo ga gitu ga seru lah.. moga2 menang yah bisa menikmati lampung sekali lg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih makmun :*

      Iyaaa jalanannya mengerikan. Tapi penasaran sama daerah di Sumatera sih :)

      Hapus
  8. Bener2 berpetualang ya
    Dibalik foto2 gembira di ig yg saya lihat ada usaha yg luar biasa buat sampai kesana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak, Mbak. Fotonya harus didapat penuh perjuangan :)

      Hapus
  9. Kebayang kondisi hamil naik bus di lampung sana.. Grok grok grokk mestiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bumil tidak disarankan, Mbaaak. Hehehe. Istirahat wae :D

      Hapus
  10. Aku udah lama mupeng ke Lampung. Pantainya cantik semua, tapi jalannya bikin nyali ciut, Tar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayuukk kita ke Lampunggggggg. Nyali ciut tapi penasaran kan? :)))

      Hapus
  11. Perjuangan menuju lokasi terbayar yah setelah sampai tujuan, dari foto nya aja bagus banget apalagi aslinya.. Moga menang ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih banyak doanya, Mbak Ade :)

      Iyaaa penuh perjuangan banget pokoknya. Tapi seru. Tegang dan penasaran campur

      Hapus
  12. Tari sempet tuker2an account FB ama IG , nggak ama abang ojeknya ? ...ihihi... asiik yaa Tari, aku tunggu juga cerita perjalanan mendebarkan dari Semarang ke Jakarta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha nggak sempat kepikiran sampai sana, Mbaaaakk. Harusnya tukeran yak biar kalau ke sana kontek2an lagi wkwkwk :p

      Siaaaapp. In shaa Allah ditulis soal itu :)

      Hapus
  13. Perjalanan empat musim ke Gigi Hiu bener-bener tak terlupakan ya, Tar.. Masing-masing punya cerita seru sendiri :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Mbaaakk. Seru, tegang, penasaran sama tujuan akhir.

      Hapus
  14. lain kali kemari mudah2an cuma lewati satu musim aja :D

    BalasHapus
  15. oh Pantai Batu Layar sama Pantai Gigi Hiu sama? baru tau

    BalasHapus
  16. Wow! Seru sekali.. Beberapa kali dengar nama pantai Batu Layar, rupanya kalau kesana butuh perjuangan ekstra ya Mbak :)
    Indah sekali...
    Btw degdegan pas bagian lampu motor mati alhmd nyala lagi..

    BalasHapus
  17. KECE BANA BANA...CHEBOOOXXXXX ....CUCUK..!!! Jalan kaki bareng karena ada trouble diperjalanan itu jadi kenangan bangedddd

    BalasHapus
  18. aaaakkkk pengen ke kampung, eh, lampung

    BalasHapus