Laman

Rabu, 07 September 2016

Mengenal Lebih Dekat Sejarah Pertambangan Timah di Museum Timah Indonesia Pangkal Pinang


“Pak, bisa anterin ke Museum Timah di jalan Ahmad Yani?” tanya Mbak Dee pada sopir angkot. 

“Eeemmm...bisa tapi nambah. Soalnya bukan rute angkot kalau ke sana,” jawab pak sopir sembari menyebutkan angka. 

Mbak Dee menoleh pada saya meminta persetujuan. 

Saya mengangguk. “Gapapa, Mbak. Daripada kita kesiangan dan bingung nyari kendaraan.”

Kami menyetujui angka yang disebutkan sang sopir tanpa tawar menawar. Toh, kami memang butuh dan mengejar waktu. Tidak ada pilihan lain. Sejak tiba di Pangkal Pinang kami sudah dipusingkan mencari alat transportasi ke beberapa destinasi. Sewa mobil sangat tidak ramah di kantong karena kami hanya bertiga dengan Lala. Sedangkan sewa motor sangat sulit dijumpai. Membuat kami hampir putus asa. Padahal banyak tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. 

Angkot membelah jalanan kota Pangkal Pinang. Jalanan ramai tapi wajar. Kota yang memiliki banyak bangunan tua ini mulai menggeliat. Banyak warga melakukan aktivitas mereka sebagai pedagang. Hari masih pagi tapi sang mentari menyapa lebih sayang. Panas banget, Maaakkk! 

“Nah, ini museumnya, Mbak. Bapak turunkan di depan situ, ya,” pak sopir memberikan komando jika kami sudah tiba di tempat tujuan. Saya melihat ke arah yang ditunjukkan pak sopir. Bangunan bercat kuning gading dengan sebuah lokomotif di halaman depan tampak sepi. 


Museum Timah Indonesia
Museum Timah Indonesia

“Makasih ya, Pak,” saya menyerahkan dua lembar sepuluh ribuan dan selembar lima ribuan. Dua puluh lima ribu rupiah harga yang harus kami bayar menuju museum. 

“Nanti dari sini tinggal jalan lurus saja. Ketemu jalan utama dan tunggu angkot di sana,” ujarnya menambahkan sebelum pergi meninggalkan kami. 

“Siap, Pak! Sekali lagi terima kasih banyak,” Kami bergegas memasuki halaman museum. 

Kesan pertama adalah museum ini tampak rapi dan terawat. Rumput terpotong rapi berkolaborasi dengan bunga aneka warna. Beberapa pohon tertanam dengan jarak teratur membuat halaman tampak lebih rindang. Cuaca panas khas Pangkal Pinang sedikit terkecohkan saat melihat sejuknya halaman museum. 


Museum Timah Indonesia
Batu peresmian

Di halaman museum terdapat koleksi semacam lokomotif klasik, wadah penampung timah yang mirip mangkok, alat bor setinggi orang dewasa, serta alat monitor tambang semprot. Saya semakin tak sabar menjajaki isi dalam museum. Setelah hampir seperempat abad hanya mendengar kisah timah lewat buku ilmu pengetahuan sosial, akhirnya saya menginjakkan kaki di kota penghasil timah terbesar di Indonesia. Saya siap mendulang ilmu dan menyaksikan langsung lewat aneka barang peninggalan masa lalu. 


Museum Timah Indonesia
Bor bangka



Museum Timah Indonesia
Alat kuno untuk penambangan timah

Museum Timah Indonesia
Mangkuk penadah timah

Dari atas burung besi yang saya tumpangi menuju Bangka, tergambar jelas bagaimana bentuk wilayah yang menjadi tempat pertambangan timah. Ceruk-ceruk bekas tambang tampak meluas. Ditunjukkan dengan warna putih yang begitu dominan dibanding warna hijau. Entah perasaan apa yang tergambar dalam benak. Terbayang-bayang jika kelak ceruk-ceruk tersebut semakin meluas. Semoga alam masih bersikap baik pada kita. 

“Selamat pagi. Selamat datang di Museum Timah Indonesia. Mari silakan mengisi daftar tamu terlebih dahulu,” sambut petugas museum ramah. 

“Selamat pagi, Mbak.” 

Kami berdua khusyuk mencantumkan nama dan alamat di buku tamu. Saya mencomot brosur yang tersedia di meja. Lumayan buat bahan bacaan dan tulisan. Hehehe. 

“Sudah pernah ke sini sebelumnya, Mbak?” tanya petugas sambil mengerling gemas pada bocah kriwil, Lala, yang tengah asyik mengamati bagian depan museum. “Baru pertama kali ini, Mbak. Kemarin googling tempat wisata di Bangka, keluar museum ini. Sepertinya museum ini menarik untuk dikunjungi,” terang saya. 

“Wah begitu rupanya. Sekali lagi selamat datang di Museum Timah Indonesia. Mari sekarang kita lihat satu per satu koleksi museum ini.” 

Museum yang kami sambangi merupakan tempat pendokumentasian benda-benda pertambangan pada era tahun 1950. Museum yang diberi nama Museum Timah Indonesia diresmikan pada tahun 1958 yang menempati bangunan kuno pada jaman Belanda. Dahulu bangunan ini merupakan tempat tinggal karyawan perusahaan timah Banka Tin Winning. Bangunan ini pula menjadi sejarah pertemuan tentang penyerahan kedaualatan antara pendiri bangsa dengan utusan PBB. Museum Timah Indonesia telah mengalami dua kali pemugaran pada tahun 1997 dan 2010. 



Museum Timah Indonesia


Kami mulai melihat-lihat isi museum di bagian depan. Terdapat penjelasan mengenai sejarah pertambangan timah di Pulau Bangka dari masa ke masa. Sebuah prasasti menyambut kedatangan kami di sebelah kiri pintu masuk. Prasasti Kota Kapur. Prasasti ini merupakan tiang batu bersurat yang ditemukan di dusun kecil pesisir barat Pulau Bangka bernama Kota Kapur. Aksara Palawa dan bahasa Melayu Kuno menghiasi tiang batu yang ditemukan tahun 1892 oleh J.K. van der Meulen. Prasasti ini berisi tentang kutukan kepada siapa saja yang membantah titah kerajaan Sriwijaya. Selain prasasti, pada ruangan depan ini terdapat manuskrip awal penulisan sejarah Bangka dan koleksi batu timah serta penyebarannya di Pulau Bangka dan Indonesia. 


Museum Timah Indonesia
Huruf Palawa di Prasasti Kota Kapur

Museum Timah Indonesia
Prasasti Kota Kapur

Memasuki ruangan tengah atau kedua terpampang berbagai macam peralatan penambangan timah dalam etalase. Gayung air, godam, guci, kereta dorong, miniatur kapal keruk, bor bangka, bor lepas pantai, dan aneka peralatan tradisional lain. Semua menggambarkan betapa hebat orang-orang jaman dahulu. Hanya dengan peralatan seadanya mereka mampu mengambil dan mengolah timah menjadi sumber kehidupan sehari-hari. Bisa dibayangkan berapa waktu yang harus dikeluarkan demi menghasilkan timah-timah berkualitas. 







Ruangan terakhir di museum menggambarkan penambangan timah dengan cara dan alat yang lebih modern. Di sini terdapat gambaran proses pengolahan timah pada era pra industri, era industri dan industri modern. Selain itu ada penjelasan manfaat timah dalam peradaban umat manusia serta bagaimana menyeimbangkan lingkungan hidup. Bisa diartikan bahwa ruangan ketiga menggambarkan bentuk pertanggungjawaban dari penambangan timah. Tidak hanya memikirkan berapa banyak timah yang telah dikeruk tetapi juga bagaimana berkolaborasi dengan lingkungan dan alam.

Museum Timah Indonesia
Lukisan tentang penambangan timah



Museum Timah Indonesia
Ruang ketiga di bagian museum

Di museum ini terdapat juga Ruang Sentra Kerajinan Pewter. Saya sangat menyukai ruangan ini. Kebetulan ada perajin yang sedang mengolah timah. Rasanya seperti mendapat durian runtuh. Saya bisa melihat langsung bagaimana proses mengolah biji timah menjadi sebuah miniatur bunga. Sebagai orang yang gemar mengoleksi pernak-pernik, mata langsung jelalatan mencari sesuatu. Tentu yang ramah di kantong. Hehehe. Harga pernak-pernik dibandrol mulai harga 30 ribu hingga jutaan rupiah. Ada gantungan kunci, bross, plakat, miniatur perahu pinisi, truk dan masih banyak pernak-pernik lain. Perahu pinisi menempati harga tertinggi dari yang lainnya. Wajar saja sih kalau mahal, wong buatnya aja njelimet dan butuh ketelatenan luar biasa. 


Museum Timah Indonesia
Kira-kira mau jadi apa ya? :D

Museum Timah Indonesia
Elegan dan simple

Museum Timah Indonesia
Gantungan kunci
Pernak-pernik berbahan dasar timah tersebut merupakan hasil karya para perajin timah di Pulau Bangka. Selain itu kita juga dapat memesan pernak-pernik dengan desain yang diinginkan lho. Berhubung rumah jauh dari Pulau Bangka, niat memesan seketika juga saya urungkan. Hehehe. Gimana mau ngangkutnya coba? 



Museum Timah Indonesia
Aneka miniatur lain yang lucu menggemaskan


Museum Timah Indonesia
Kapal pinisi. Coba tebak harganya berapa?

Puas berkeliling museum, melihat koleksi pernak-pernik, proses pengolahan biji timah, membeli dua buah gantungan kunci, saya meminta ijin petugas untuk numpang tempat sholat. Fasilitas museum seperti toilet, tempat wudhu dan mushola terbilang cukup rapi dan bersih. Belum lagi keramahan petugas yang menemani kami bertiga. Selama menjadi guide, senyum tak pernah lekang dari paras manisnya. Matahari telah berada tepat di atas kepala. Panas yang sejak pagi menerjang terasa lebih cetar membahana. Membuat kami bertiga malas untuk beranjak dari museum. Rasanya ingin lebih berlama-lama untuk belajar dan berdiskusi tentang sejarah timah.

Ketika keluar dari museum, saya baru sadar jika kami berkunjung pada hari kerja. Pantas museum sangat sepi. Museum yang terletak di Jalan Jendral Ahmad Yani No.17 ini buka setiap hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu dari pukul 08.00 - 12.00 WIB dan 13.00 - 16.00 WIB. Sedangkan khusus hari Jum'at museum tutup. Masuk museum ini tidak dikenakan biaya sepeserpun lho. Alias gratis tis tis!

"Kata si mbaknya tadi ada dua museum timah di Bangka, Tar. Yang paling gedhe di Muntok. Sekitar 3-4 jam perjalanan," Mbak Dee memberikan informasi.

"Mau ke sana ta, Mbak?" saya melempar ide. Pikir saya sekalian mumpung di Bangka.

"Pengin sih, Tar. Tapi kok jauh banget. Lagipula kita nggak ada kendaraan."

"Wow! Empat jam! Itu kan luar biasa jauhnya. Yaudah kalau gitu mari berdoa semoga bisa ke Bangka lagi dan berkunjung ke Muntok."

Kami tergelak bersama. Sekiranya kali ini cukup dulu mengenal sejarah tentang pertambangan timah. Pangkal Pinang memberi ruang tersendiri di hati saya. Kota ini telah merenggut hati lewat keramahan Museum Timah Indonesia. Museum yang kami kelilingi hampir dua jam banyak memberikan informasi dan ilmu baru. Museum memang tempat untuk berkaca. Museum sebagai tempat pengingat diri. Bahwa ada sebuah sejarah yang harus selalu kita ingat sampai kapanpun. 



Salam,

@tarie_tarr

55 komentar:

  1. Gantungan kuncinya cakep, eh kapal pinisinya lebih cakep lagi. Hahaha, aku aja cuma lihat foto bingung, pengen semua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang bikin klepek-klepek ya, Mbak. Aku aja pengen borong semua. Hahaha. Sayang kantong tak cukup buat bayar :D

      Hapus
  2. Ya, bangka memang terkenal sebagai penghasil timah putih. Nggak salah kalau ada museumnnya disini. Sayang, aku nggak terlalu suka sama museum, kemana mana museum selalu kulewati kecuali museum yang aneh aneh, hehehe *mintadigampar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku suka museum. Walau ada kesan agak horor di setiap museum tapi seneng aja mengenal sejarah. Hihi.

      Hapus
  3. di belitung juga ada museum timah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah belum pernah ke museum timah di Belitung. Kudu balik lagi kalau gini *kode keras

      Hapus
  4. Aku punya gantungan kunci yang sama persis. Oleh-oleh dari Ibu. Dibilangin nitip magnet eh dibeliin mainan kunci haha

    omnduut.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Magnet susah dicari di Bangka. Hehehe.

      Hapus
  5. Wah..ternyata wisata sejarah juga asyiik untuk dikunjungi yaa mba tari, aku mau nyoba2 yg deket dulu ah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya yuk nyobain yang deket dulu, Mbak. Abis itu baru melipir agak jauhan. Lama-lama terbiasa deh :)

      Hapus
  6. Souvenirnya cantik-cantik bgt mbaa, rapi gitu bikinannya. Museum seseru ini masuknya gratis lagi ya, asik banget😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa rapi banget, Mbaaakk. Aku aja klepek-klepek pengen beli semua. Hahaha.

      Hapus
  7. Kalau bicara Tambang...Indonesia udah kaya dari lahir ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget tapi sedih kalau liat dari udara. Udah didominasi warna putih alias banyak ditambang :(

      Hapus
  8. Belum pernah kesana nih, ajak Raka seru kali yaaaa hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yukkk Raka diajak yuukk. Belajar sejarah sejak kecil. Ntar Onti ikutan yaaaa

      Hapus
  9. pengen ke pangkal pinang juga euy :D

    BalasHapus
  10. Aku ke sini tahun 2012. Tak banyak yang berubah kayaknya. Foto-foto tua mereka yang pernah berperan penting dalam industri pertimahan Babel,masih di sana kan, Taro?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih ada, Mbak Evi. Kalau liat foto-fotonya tuh rasanya gimana gitu. Kagum pada orang-orang jaman dahulu :)

      Hapus
  11. Nice artikel... good story, dan aku dooong kecipratan souvenirnya hehehe. Makasoh yaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha masama, Mamak. Jadi kapan kita ke mana? *eh :p

      Hapus
  12. Baru denger soal museum timah ini, secara jauh babget y, dari kita yg tibggal di jateng. Hihihi. Naksir kapalnya jugak. Beneran cakep,euy...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, Mbak. Lumayan jauh dari Jateng tapi seru lhooo. Kapalnya emang cakep bangeetttt. Andaikan harganya nggak berjut-jut pasti aku angkut. Hihi

      Hapus
  13. Semoga kapan2 kesampean ke sana

    BalasHapus
  14. jadi inget film laskar pelangi. skrg udah ga ada dama sekali ya mak pertambangannya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih ada kok, Mak. Pengen sesekali gitu berkunjung ke pertambangannya langsung :)

      Hapus
  15. Pengen ke Bangka lagi... kemaren bekum puas.. yuk!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuukkkk! Pengen keliling Bangka lebih puas. Seminggu cukup tak? Wkwkwkwk

      Hapus
  16. Aku seneng museum yang unik, Tar.. Kalau ke sini, pengen mampir, seh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tossss! Aku juga mulai gemar sama museum. Walau kalau masuk kadang masih deg-deg ser. Hahaha. Atut

      Hapus
  17. Cakep museumnya, dapat banyak ilmu yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaakk ilmunya banyak. Sukanya berkunjung ke museum ya gini. Dapat pengalaman dan ilmu baru

      Hapus
  18. Saya termasuk orang yang senang sekali jika masuk museum - karena bisa belajar dan banyak tahu hal hal lampau. Sukses Lestari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tosss dulu kitaa! Aku juga suka. Berlama-lama dan mengamati. Hihi. Aamiin. Makasih, Om :)

      Hapus
  19. Aaaa, indonesia kaya akan sejarah ya. Dan museum2 kek gini wajib dilestarikann

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kaya banget. Pokoknya belajar sejarah lebih menyenangkan sambil jalan-jalan deh *modus. Museum harus dilestarikan. Harus :)

      Hapus
  20. Seru banget jalan2nya mbak... liburan sekaligus nambah ilmu ini ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Banyak ilmu dan pengetahuan baru yang sebelumnya hanya didapat dari buku :)

      Hapus
  21. ternyata timah ada museumnya..menarik banget liat-liat peralatannya pengolahannya :)

    BalasHapus
  22. serasa belajar sejarah kak
    dapat ilmu dapat jalnnya

    BalasHapus
  23. kalau ada videonya bakal lebih bagus nih.
    tapi namanya juga museum yak, hehe

    BalasHapus
  24. Jadi belajar sejarah nih (y) (y)

    Semoga manusia makin bijak mengelola alam :)

    BalasHapus
  25. My next bucket list, kakaaa...
    Babel... I'm coming

    BalasHapus
  26. Makasih lho Tar, udah diajak jalan-jalan ke sini. Keep blogging, dear! Cumun9uD eaaa

    BalasHapus
  27. Suka deh kalau pajangan alat-alat di halaman depan itu dari bekas penambangan asli, soalnya jadi kerasa banget perjuangan menemukan timah itu. Museumnya lengkap juga soalnya sampai ada kegiatan pengolahan menjadi kerajinan secara langsung. Cuma, ini sudah agak saya duga sih, sepertinya yang mengelola ini bukan pemerintah, melainkan CSR suatu perusahaan timah, ya?
    Semoga timah Indonesia jaya selalu dan manfaatnya bagi rakyat bisa maksimal. Amin.

    BalasHapus
  28. Aduuh pingiin ke sana jugaakk

    BalasHapus
  29. Bagus2 souvenir dan miniaturnya ☺

    BalasHapus
  30. Kasih tahu doong berapa harga pinisinya :)

    BalasHapus
  31. mbak lestari boleh nanya nanya terkait museum timah gak?

    BalasHapus
  32. mbak lestari, boleh nanya nanya terakit museum timah gak?

    BalasHapus
  33. Kalo ke BaBel lagi, ajakin akuuh doong :D

    BalasHapus
  34. Museumnya bagus bnget mbak... tapi sayangnya di bangka ya mbak... jauh bnet sama tempat tinggal saya... kpn2 kalo ada rezeki lebih bisa main kesini nih..

    BalasHapus
  35. Tariiii... ini jadinya yang menang siapa, darliiing?

    bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus