Minggu, 23 Oktober 2016

Commuter Line dan Kota Tua, Dua Hal yang Dirindu dari Jakarta







Percakapan suatu siang saat beberapa teman akan kembali ke Jakarta.

"Ditunggu kedatangannya di Jakarta, ya. Nanti nginep rumah kami aja. Ada kamar kosong yang biasa dipakai anak-anak buat nginep,"ujar seorang teman berpamitan.

Saya berjabat tangan dan mengangguk. "Semoga punya rejeki dan bisa ke sana. Tapi nanti tetap ada edisi naik KRL, ya?"

"Itu gampang nanti. Bisa diaturlah. Datanglah dulu ke Jakarta."


Beberapa kali memang pernah ngetweet soal rasa kangen saya naik commuter line atau biasa dikenal dengan sebutan KRL (kereta rel listrik). Untuk cerita selanjutnya saya sebut KRL aja yaaa. Sampai ada teman yang ngakak gegara rasa kangen saya ini. "Naik KRL kok dikangeni" gitu katanya. Hahaha. Yaaa gimana yaaa. Wong di Semarang nggak ada. Wkwkwk. Ada yang nanggepin serius juga lho. Mau nemenin naik KRL lagi maksudnya. Aku sih mau bangettttttt :D

Pengalaman pertama naik KRL

Mei lalu menjadi bulan istimewa bagi saya. Enggak ulang tahun. Enggak pula lagi lamaran. Tapi bulan itu untuk pertama kalinya saya naik KRL dan sendirian. Catet, ya, catet, sendirian! Jatinegara ke Bogor saya lalui dengan deg-degan. Gimana nggak deg-degan cobak. Selama ini saya hanya bisa melihat keriuhan KRL via sosmed atau televisi. Alhamdulillah siang itu keretanya longgar. Tapi tetep saya nggak bisa bobok siang. Padahal jaraknya lumayan jauh.

"Dapat tempat duduk nggak?"

"Duduk di gerbong mana?"

"Berkabar kalau sudah sampai Bogor ya. Hati-hati di keretanya."

Adalah Mbak Donna, yang biasa saya panggil "Mamak", yang menemani saya selama perjalanan Jatinegara-Bogor. Beberapa hari sebelumnya juga sudah berkali-kali memastikan bahwa saya bisa berangkat sendiri ke Bogor. Selain Mamak Donna, masih ada Mbak Dedew yang memantau saya baik-baik saja selama perjalanan. Maklum yaa baru pertama kali naik KRL, jadi yang mantau sekampung. Hahaha. Norak bener deh saya.


Wajib banget tiketnya difoto yaaa. Hahaha :D

Alhamdulillah saya selamat sampai Bogor. Duh senengnya nggak karuan. Akhirnya berhasil menaklukkan rute Jatinegara-Bogor sendirian. Kenorakan saya masih berlanjut dengan mencoba rute Bogor-Stasiun Jakarta Kota keesokan harinya. Yep. Saya, Alde dan Mbak Dedew emang rencana mengunjungi Kota Tua Jakarta. Jadi pergilah kami bertiga menumpang kereta dengan semangat '45. Kami akan menjelajah museum-museum yang ada di Kota Tua.

Sayang kami tiba terlalu siang di Kota Tua. Beberapa museum sudah tutup dan ada juga yang masih mengalami renovasi. Alhasil kami hanya berkunjung ke Museum Bank Indonesia dan Museum Fatahillah. Padahal masih ada beberapa museum lain yang seharusnya bisa kami kunjungi. Apa mau dikata, Alde dan Mbak Dedew harus segera kembali ke Bogor jika tak ingin berdesak-desakan di kereta. Piknik saya dengan Alde berakhir sudah.


Mbak Dedew dan Alde


KRL dan Kota Tua, tunggu kedatangan saya kembali

Menjadikan Jakarta sebagai destinasi piknik terdengar agak aneh nggak sih? Di saat yang lain asyik kasak kusuk dengan beberapa tempat di Indonesia atau bahkan luar negeri, saya masih menyusun jadwal untuk bertandang kembali ke Jakarta. Bukannya saya nggak ingin berkunjung ke daerah lain tapi karena minimnya cuti, Jakarta menjadi tempat yang masuk akal untuk disambangi. Apalagi banyak pilihan kereta untuk ke Jakarta dan sebaliknya ke Semarang. Alasan lain sih karena saya masih pengin menikmati suasana KRL dan Kota Tua. Yup. Walau Mei kemarin saya telah menyelesaikan misi tapi saya masih ingin kembali. 

Semenjak pindah tugas ke kantor induk, beberapa kali memang pernah dinas ke kantor pusat di Jakarta. Mulai dari dua hari semalam, berangkat malam pulang malamnya lagi (tidur di jalan), atau berangkat pagi pulang malam juga pernah. Ya namanya juga dinas jarang ada edisi jalan-jalan dulu. Sekali pun bisa jalan-jalan paling beberapa jam sebelum kembali ke Semarang. Dengan catatan waktunya nggak habis di jalan. 


Saya dan Mamak di depan Museum Fatahillah

Makanya saya pengin banget bisa berkunjung kembali ke Jakarta. Biarpun jalanan macetnya bikin stress, kereta desak-desakan, klakson tiada henti, tapi saya masih merindu Jakarta. Ada atmosfer berbeda di ibukota negara ini. Atmosfer perjuangan untuk mencari penyambung hidup dari setiap orang yang ada di dalamnya. KRL menjadi tempat bertemunya berbagai macam karakter orang. Mulai dari yang nggak peduli alias cuek, pura-pura nggak tahu, menang sendiri, baik hati, patuh aturan juga ada. Saya iseng banget lho mengamati satu per satu wajah penumpang di dekat tempat saya duduk. Hahaha. Sekali lagi saya memang norak.

Mengapa saya ingin kembali menikmati KRL dan Kota Tua?

Commuter line atau KRL

Dari segala jenis transportasi yang ada, kereta menjadi pilihan paling favorit. Selain harganya paling murah, kereta itu tempat favorit melamun berpuluh episode. Di kereta pula bisa bertemu berbagai macam orang dan karakter masing-masing. Apalagi kalau kereta ekonomi. Lebih syahdu lagi soal urusan berbagi tempat untuk kaki. Hihihi.

"Kemarin aku emang udah naik KRL tapi belum sempat foto di depan stasiunnya. Duh, misiku yang ini belum terselesaikan," keluh saya pada Mamak Donna. Saya memang punya misi setiap kali datang ke stasiun di manapun itu harus foto di depan tulisan stasiunnya. Hahaha. Misi yang sungguh cetek.

"Jakarta masih dikoordinat yang sama, Nduk. Baliklah ke sini. Ntar kita naik KRL dan foto di depan stasiunnya," seperti biasa Mamak Donna malah mengompori keinginan cetek saya. 

Jalur KRL dan stasiun-stasiun impian :)
sumber : www.transportumum.com

Menurut wikipedia, KRL yang beroperasi di Jabodetabek memiliki 80 stasiun. Dari 80 stasiun tersebut terbagi dalam 6 jalur.  Delapan puluh! Aiiiihh kebayang bahagianya kalau bisa punya foto di semua stasiunnya. Hahaha. 

Menikmati Jakarta dari ujung ke ujung pasti akan memberi pengalaman seru. Berhenti di stasiun satu ke stasiun yang lain. Kalau sempat menikmati jajanan atau wisata sekitar. Bertemu berbagai macam orang dari satu gerbong ke gerbong. Belum lagi sensasi serunya saat berebutan dapat tempat duduk. Katanya gerbong cewek lebih ganas daripada cowok, ya? Kebetulan pas ke Bogor duduk di gerbong cewek dan relatif sepi. Duhai, KRL, tunggu aku yak!


Gerbong wanita di KRL Jatinegara-Bogor

Kota Tua Jakarta

Sudah lama saya mengidam-idamkan berkunjung ke Kota Tua Jakarta. Awalnya sih kepincut foto-foto di timeline yang cantik-cantik itu. Belum lagi banyaknya museum yang ada di sekitarnya. Alamaaakkk mupeng berat. Dulu saya nggak begitu suka museum. Tapi semenjak beberapa kali piknik ke museum bareng Alde jadi ikut ketagihan. Saya ingin kembali ke Kota Tua untuk menuntaskan beberapa hal, diantaranya :

1. Berkunjung ke museum : baru dua museum yang kemarin sempat saya kunjungi bareng Alde dan Mbak Dedew. Masih ada Museum Wayang, Museum Bank Mandiri dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang ingin saya kunjungi. Pasti seru banget seharian bertandang ke museum. Belajar sejarah nggak melulu lewat buku sejarah bukan? 


2. Naik sepeda dan bergaya ala noni Belanda : boleh ngikik atau ngakak deh sama misi dangkal ini. Beneran deh saya pengin nyoba naik sepeda, pakai topi terus foto di depan Museum Fatahillah. Hahaha. Kebayang betapa cantiknya saya :p

Pengen punya foto kayak gini :(

Kemarin nggak sempat naik sepeda dan bergaya ala noni Belanda karena gendong ransel lumayan berat. Jadi cuma punya foto sepeda dan topi doank. Enggak berani juga nitip ransel pada sembarang orang. Jakarta euy! Sudah pada tahu kan tingkat kriminalitasnya tinggi? Yaaa walaupun ransel isinya cuma baju beberapa lembar doank sih. Tapi namanya orang pendatang kan tetep kudu waspada. 

3. Menikmati suasana malam hari : beneran ini juga idaman banget. Beberapa kali sempat melihat teman posting suasana Kota Tua yang syahdu mengharu biru di malam hari. Alamaaakkkk hati ini tak kuasa melihatnya. Gedung-gedung vintage berpadu dengan cahaya lampu menjadikan suasana begitu cantik. Betapa betahnya menikmati malam hari dengan ngobrol dan duduk lesehan di halaman Museum Fatahillah. Duh, duh, duh, pengin segera angkat ransel kalau gini.

4. Kulineran : pergi ke suatu tempat belum afdhol kalau nggak nyicip makanan khasnya. Nah, saya juga ngidam banget pengin kulineran di sekitar Kota Tua. Abis capek keliling museum, naik sepeda ala noni Belanda, saatnya mengisi perut dengan kulinernya. Saya sih pengen nyicipin makanan Cafe Batavia yang tersohor itu. Sesekali donk makannya di cafe. Hahaha.


Lalu kapan saya akan kembali mengunjungi Jakarta?

Soal waktu sih masih dalam pertimbangan. Biasalah fakir cuti harus memperhitungkan semuanya masak-masak. Hal lain sih tentu soal budget. Embak kantoran kudu pinter menyiasati dan menyisihkan duit buat piknik. Saya bisa saja kembali ke Jakarta dalam waktu dekat ini atau bahkan tahun depan. Tergantung apakah waktu dan dana bisa berkompromi. 

Soal penginapan sih saya harusnya tak perlu risau lagi. Ada tawaran kamar di rumah teman saya dan Mamak Donna. Sudah nggak kehitung berapa kali nyuruh ke Jakarta dan nginap di Nirmala, rumahnya. Bukannya nggak mau sih tapi kalau untuk menuntaskan misi rasanya saya perlu nginap di tempat lain. Kadang saya kalau sudah keluar malasnya bisa betah berlama-lama di kamar. Padahal juga cuma tidur-tidur ayam sambil mainan handphone atau baca buku. Enggak enak aja gitu pagi-pagi masih gegoleran di kamar, sementara tuan rumah sibuk masak. Hihihi.

Menyiasati hal tersebut saya mulai searching penginapan yang murah meriah di Jakarta. Secara yaa menuntaskan misi berfoto di 80 stasiun dan keliling Kota Tua juga butuh dana lumayan. Jadi kudu pinter-pinter donk menekan biaya penginapan. 

Dari hasil searching saya menemukan penginapan murah meriah di Zen Rooms Near Mangga Besar 6 Utara. Zen Rooms sendiri merupakan sebuah website booking hotel yang akan membantu kita menemukan pilihan hotel budget di berbagai kota Indonesia dan mancanegaraHarga per malam di Zen Rooms Near Mangga Besar 6 Utara mulai 200 ribu rupiah dengan fasilitas yang cukup lumayan. Apalagi tempat sekitarnya sangat cocok untuk dikunjungi untuk wisata kuliner, hiburan malam dan wisata kota. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui deh yaaa.

Banyak hotel budget yang ditawarkan Zen Rooms untuk wilayah Jakarta. Harga yang ditawarkan untuk wilayah Jakarta mulai 155 ribu semalam. Mangga Besar menjadi pilihan saya nanti karena tempat terdekat dengan Kota Tua. Hanya perlu naik KRL sekali dari Stasiun Mangga Besar ke Stasiun Kota Jakarta. Asyik banget, kan? Misi naik KRL keliling Jakarta dan foto di depan stasiun tetap terlaksana. Menikmati indah dan syahdunya Kota Tua tinggal sekali naik kereta. 

Jadi siapa nih yang mau menemani saya menikmati KRL demi misi berfoto di depan 80 stasiun di Jakarta dan keliling Kota Tua? Maklum yaa saya nggak doyan selfie. Jadi butuh teman buat motretin. Hahaha :D :D :D

Yuk, ikutan saya menuntaskan rindu pada KRL dan Kota Tua Jakarta! :) :)


Sepedanya lucuuukkkkk!

Semarang, 23 Oktober 2016

@tarie_tarr

29 komentar:

  1. Jakarta masih dikoordinat yang sama, Nduk. Baliklah ke sini. Ntar kita naik KRL dan foto di depan stasiunnya,"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran ya, Maaaakk. Temenin aku keliling stasiun. Hahaha :D

      Hapus
  2. Sering pakai krl klo ke jkt, beberapa sampai hafal. Lancar. Paling nunggu lama di menggarai biadanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku baru pertama kali naik KRL. Hihi. Kangeeeen banget sama suasana kereta dan stasiunnya :)

      Hapus
  3. Tahun ini suamiku gak jadi dipindah ke jakarta seperti tahun sebelumnya, gak tau tahun depannya lagi, jakarta banyak sepupu dan saudara domisili disana ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah asyik banget kalau banyak saudara di Jakarta. Bisa sering-sering silaturahmi :)

      Hapus
  4. Moga kapan2 kita bisa bobok bareng di zen rooms ya aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Yuukk kapan-kapan kita nginep bareng yaaahh :)))

      Hapus
  5. Sepeda di KOTU memang cakep2. Hihi entah udah brp kali aku ke sana. Suka ajaa apalagi skrg sdh lebih bersih dan rapi. ZenRooms di Mangga Besar mmg deket ke KOTU. Kapan ke Jakarta, nanti aku mau dong meet up

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti saling berkabar yak, Mbak. Doain semoga punya rejeki jadi bisa ke Jakarta. Mau bangetlah kopdar sama kakak Noe :)

      Iyaaa aku juga suka banget sama suasana Kota Tua. Aroma sejarahnya kental banget :)

      Hapus
  6. Wah ky lagu donk, 'ke Jakarta aku kan kembali' ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi iyaaaaa. Kangen berat sama Jakarta nih, Mbak :)

      Hapus
  7. Aku malu nih, sbg warga jkt malah ga prnh sekalipun naik KRL nya -_-. Alasan sih klise mba.. ga berani berhadapan ama penumpangnya yg berjubel itu dan perjuangan msuk k kereta yg penuhnya astaghfirullah -_-. Cemen memang.. makanya aku lbh milih brngkat pagi2 naik taxi drpd kereta. Nntilah, mungkin mau bujukin suami utk sesekali naik kereta pas hari minggu biar sepi :D.

    Eh ntr dtgin jg museum ahmad yani, museum jend nasution ama lubang buaya. Aku kalo museum lbh suka yg punya latar belakanh kelam ato berdarah gitu. Seolah bisa byangin pas kejadiannya. Suka bikin merinding. Pas ngeliat lubang2 peluru di rumah jend nasution aku sampe mau nangis, apalagi liat patung ade irma yg digendong ibunya krn terluka kena peluru :(. Pgn tuh dtg lg k museum itu.. gratis lg..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayooo mbaaaa dicobain naik KRLnya. Beneran seru. Naiknya pas jam senggang. Atau nyoba pas jam-jam menjelang pulang kerja. Seru-seru gimana gitu :)


      Waaaah makasih banyak infonya, Mbak. Mau banget berkunjung ke semua museumnya. Aku mupeng kalau sama museum. Hihi :*

      Hapus
  8. Kangen banget sama kota tua huhu

    BalasHapus
  9. strategis banget, dari stasiun kota tua jakarta bisa keliling2 kawasan kota tua juga..

    BalasHapus
  10. Demi apa baca postingan ini jadi kangen banget sama KRL-___-
    Aku dulu anker (anak kereta), hahaha. Enaknya karena aku nglawan arus sih, di saat orang2 pada bejubel ke Jakarta, aku mah santaaai longgar karena aku kee BojongGede :D.

    Dua tahun di Palopo nggak pernah liat penampakan kereta *yaiyalah*
    Yang kasian anak kedua sih. Dulu Kakaknya mah kenyang naik KRL, busway, delman. Sekarang dia nggak pernah ngrasain transportasi itu di Palopo. Hiks.
    *Dan kenapa deh ini aku malah jadi curcoool *___*

    BalasHapus
  11. Suamiku waktu ngerjain proyek di Jakarta, hampir seminggu sekali keliling kota naik KRL. Aku bilang norak, tapi dengar ceritanya bikin jealous beneran nih, Tar ^^

    BalasHapus
  12. wah serunya bs traveling hemat ke kota tua jakarta

    www.travellingaddict.com

    BalasHapus
  13. jadi pingin naik krl nih mbak..malem2 romantis kyknya ya

    BalasHapus
  14. Jakarta memang ngangenin :)

    BalasHapus
  15. Emang seru naik KRL asal jangan pas busy time, ngga napaak wkwk murmer pulak, krl plus gojek=bahagia wkwkwk

    BalasHapus
  16. hahah,,,aku tahun lalu naik KRL sendirian dan merasa jadi pepes pula karena empet2an. Dari Tangerang ke Menteng. Dengan 2 kali transit dan sempat was-was kalau salah naik kereta.

    BalasHapus
  17. Wah..saya jg belum pernah naik KRL tuh..empet2an ky naik tans jakarta ndak yaa? hihi..

    BalasHapus
  18. Wow, aku jadi pingin ke kota tua Jakarta juga nih :)

    BalasHapus
  19. aku belum pernah naik commuter line mba Tar.
    tapi udah pernah ngerasain naik yang sama kayak commuter line di Hongkong waktu itu, namanya MTR. Jadi kayak nostalgia hehehhe.
    Ayok ke sana rame2 sama Gres, mba Tar.

    BalasHapus
  20. Berkali-kali ke Jkt blm pernah ke kota tua dan jg naik KRL. Kayaknya next time kalo ke Jkt lg harus coba neh..

    BalasHapus
  21. Yuk taroo aku jg pgn ngerasain naik KRL, kapan yo k jkt bareng lagiii

    BalasHapus